MENCERMATI DONGENGAN SAUR SEPUH [09:54 AM, 11-Nov-09]
Kisah Jihad Sunan Kalijaga 1
.
<br/>Sewaktu aku masih duduk di kelas VI SD,Ibu Guruku pernah berkisah tentang perjuangan para Wali Songo dalam upaya mendakwahkan Dienul Islam di Nusantara, termasuk di dalamnya kisah legendaris dari Kangjeng Sunan Kalijogo <br/>. Nah, kisah Kangjeng Sunan ini yang sangat aku idolakan. Mengapa? Karena menurut aku yang masih bocah, Kangjeng Sunan Kalijogo prototype Indonesia tulen, kreativitas dakwahnya itu lho yang sangat ku puja.Dari falsafah Beliau lahir alat-alat pertanian (yang notabene sangatjauh dari gebyarnya kraton), seni suara, musik dan seni drama(dalam bentuk wayang kulit),juga kepiawaian dalam arsitektur bangunan, ah pokoknya Kangjeng Sunan kemampuannya komplit dech !<br/>
Namun di balik kisah kecemerlangan tersebut, ada sudut kisah yang sangat mengganggu hatiku sampai saat ini. Semua mengakui kedigjayaan Kangjeng Sunan, bukan sekedar fisik tapi juga pemikiran dan pencerahan untuk kehidupan itu yang lebih mumpuni.Karena kita pun mafhum, bahwa dunia atau sejarah ini diciptakan bukan oleh kekuatan fisik seseorang semata namun terbukti oleh kekuatan pemikiran dan gagasannya.
Apa gerangan kisahyang mengganggu di hatiku ? Sering dikisahkan bahwa Beliau mendapat titah dari Sang Guru (Sunan Bonang?) untuk menjaga sebuah Kali. Beliau sangat patuh dan setia kepada perintah gurunya, saking patuhnya dia tidak pernah bergeser sejengkalpun dari tempat yang ditunjuk oleh gurunya tersebut.Sehingga semua badannya penuh dengan akar pohon dan lumut-lumut tanaman perdu.Kemudian diakhiri dengan komentar, "itulah kedigjayaan Kangjeng Sunan Kalijogo, dalammenyebarluaskan Agama Islam di Tanah Jawi..".
Kisah tersebut yang mengganggu hatiku untuk terus bertanya dan bertanya, sampai mungkin Ibu Guru tersayangku menganggap aku anak crewet, ngeyel atau ndak tahulah....
Pertanyaanku cuma begini :
1. Apakah tugas seorang Wali/Sunan di Tanah Jawa? Dijawab, menyebarkan Ajaran Islam.
2. Apakah Kangjeng Sunan Kalijogo termasuk ke dalam tugas tersebut ? Jawaban, Ya,
3. Kalau begitu, kapan Beliau dakwahnya, khutbahnya atau sholat sertawudlunya, pabila selama itu cuma menunggu di pinggir kali sampai lumutan dan dibeliut akar-akar..?
Jawaban yang agak membuat hatiku sedikit lega justru datang dari ayahku, Beliau menuturkan : Almi, banyak sejarah yang dimodivikasi oleh para kolonial sebelum meninggalkan tanah air kita, atau oleh kepentingan elit politik tertentu, sehingga ada sejarah yan g sangat meragukan atau istilah kerennya penyelewengan (distorsi) sejarah.Ya mungkin kisahnya Kangjeng Sunanpun sedikit terkontaminasi oleh distorsi yang ingin mengarahkan ummat Islam suapaya lebih baik statis, pasif tidak gerak seperti dicontohkan oleh Kangjeng Sunan tadi, padahal kita sepakat bahwa Kangjeng Sunan adalah Waliyullah yang sangat dinamis dan proaktif serta seorang kreator.
Nah jalan tengahnya, kita jangan dulu berburuk sangka, analisis kisah tersebut dengan wujud metafora (permisalan) al Qur'an pun mengajarkan seperti itu 'kan, Ada muhkamat dan ada mutasyabihat?
Kisah Jihad Sunan Kalijaga 2
Ditinjau secara metafora atau dengan gaya bahasa Qur'an, mutasyabihat,maka kisah Kangjeng Sunan Kalijogo yang setia menunaikan titah Sang Guru untuk menjaga Kali 
sampai tubuhnya dibelit akar pohon dan tumbuhan perdu,menyiratkan makna simbolis yang sangat dalam untuk ummat Islam Indonesia. Begitu Papaku memulai lagi penjelasannya,sembari menghisap sisa rokonya,dan sebagaimana biasa aku telah siap dengan catatan layaknya wartawan yang lagi ngewawancara pejabat gituh.(Chiee keren juga..).
Sang Sunan Guru memberi tugas kepada Kangjeng Sunan Kalijogo buat ngejagain Sungai/kali,bisa diartikan secara metafora bahwa Sungai adalah tempat mengalirnya air,dan air di dalam al Qur'an sebagai simbol kehidupan.Sedangkan Hidup membutuhkan nafas (gak punya nafas,ndak bakalan hidup.dong!).Terus apa sih kaitannya nafas dengan tugas Sang Wali?
Manusia hidup butuh nafas,adapun nafas yang menjamin kehidupan selamat dan bahagia adalah Nafas Dienul Islam.Artinya,Sang Wali dititahkan untuk menjaga mengalirnya Nafas Kehidupan Ummat beragama Islam.(Ah,ada-ada aja Si Papa,opo iya?)
Coba deh Almi bayangin, lanjut Papaku (dan aku spontan naruh jari telunjuk di jidat,buat ngebayangin dulu.he he),kalau air sungai tidak lancar mengalir sebagaimana seharusnya atau menggenang,tentu nasibnya akan sangat tragis.Lho,maksud Papa tragis gimana?Tanyaku penasaran (Koq kayak sinetron drama gitu..). Ya nasibnya akan menjadi tempat pembuangan segala sampah atau limbah,kemudian mengeluarkan bau busuk yang menyebar ke mana-mana.Demikian hal jika Ummat Islam Stagnan alias mandeg dalam kehidupan agamanya,maka akan melahirkan berbagai bibit penyakit dan lebih parahnya,akan menjadi bahan tudingan malah sampai fitnah dari orang lain,persis seperti nasib air tergenang yang berubah jadi wadah sampah.
Bagaimana hubungan bahwa Kangjeng Sunan dibelit akar-akaran,apa bener tuh? Iya kapan mau sholat atau dakwahnya dong !
Setiap insan dalam hal ini seorang Muslim/Mukmin yang telah bertekad buat memawakafkan dirinya buat berdakwan menegakkan izzul Islam wal Muslimin,pasti bakalan berhadapan dengan program uji kelayakan dari Sang Khaliq,berupa tantangan dan godaan,nach Almi, tantangan dan godaan akan membelit dirinya bagaikan akar-akar pohon yang membelit tubuh Kangjeng Sunan itu. Ooh jadi akar-akar dimaksud sebagai simbol dari akar egoisme,kapitalisme,materialisme dan isme-isme lainnya yang bertolakbelakang dengan Program Islam,gitu ya Pah ? Papaku mengiyakan (Iih pinter juga otakku !Kreatif dikitlah,gak ada yang memuji,ya memuji sendiri he he).Wallohu A'lam bishowab !!
(Diposkan : Sabtu,15 Agustus 2009 oleh Almi Sitanov-Kota Intan Garut Jabar)

Comments
Subscribe to Comment Feed (RSS / ATOM)
No comments yet. Why not make the first one!
New Comment